Diarsipkan di bawah: Kolam Seni
Tiko, Juni 2009
Kali ini Mr.Dosenku membawakan obyek yang tak biasa. Ketika membuka kelas dengan gayanya yang cengengesan menampilkan sebuah kontradiksi dengan karakter wajahnya yang mempunyai raut muka serius yang akhirnya selalu membuat kami kangen dan memaafkan beliau. Ia masuk kedalam kelas dengan bersiul-siul kecil. Dikempitnya tiga pasang obyek yang bentuknya mirip sebuah boneka, Masing-masing obyek memiliki warna dasar yang berbeda. Kemudian dengan gerakan ekspresif, ia melemparkan tiga pasang obyek itu ke atas meja di depan kelas. Gedobraak….!!, kami kaget, kemudian sambil berpandang-pandangan satu sama laen, spontan bahu kami gerakkan ke atas dengan mengepyarkan jemari dan telapak tangan ke atas seperti ketika dalam posisi berdoa, alis kamipun bergerak-gerak naik turun sebagai bahasa tubuh kami, yang menandakan ketidak tahuan atas maksud dan tinggkah polah Mr.Dosen. bola mata kami saling lirik, melemparkan pertanyaan-pertanyaan diantara kami.
Mr.Dosen keluar lagi, sepertinya mengambil sesuatu yang masih ketinggalan. Benar sekali, tak lama kemudian ia kembali dengan membawa sebuah kotak besar, semacam pustek berwarna hijau. Ia taruh diatas meja di depan kelas, kemudian memasukkan ketiga pasang obyek itu kedalam kotak. Ia memutar kotak itu, yang ternyata disalah satu sisinya berbahan seperti kaca yang tembus pandang. Mr.Dosen menyuruh kami mengamati dengan teliti, menemukan keunikan, karakteristik dan keindahan dari ketiga obyek itu, kemudian memerintahkan kami untuk mengekspresiakan apa yang kami lihat tadi keatas selembar kertas yang ada materai dan stempel bergambar burung diatasnya yang sudah diberikannya diawal tadi. Setelah memberikan tugas kepada kami, ia pun pergi lagi entah kemana.
Pelajaran gambar bentuk yang aneh pikirku…
Kami pun mulai mengamati secara detail kedalam kotak itu, kepada ketiga pasang obyek tersebut. Istilah kerennya berkonsentrasi dan fokus. Lho, lho-lho..!, kami semua kaget, ternyata ketiga pasang obyek itu bukan sembarang obyek!. Pernah nonton film CR7 nya Steven Chow, boneka dari luar angkasa yang hidup dan berinteraksi itu?, ternyata ketiga pasang obyek itu memiliki karakter yang hampir mirip, karena bisa diajak berinteraksi dan bisa berinteraksi dengan sesamanya. Mula-mula mereka bernyanyi bersama. Kemudian berdeklamasi dan membaca puisi. Dilanjutkan berdansa dan saling bertukar pasangan. Sungguh lucu dan benar-benar lucu, kami malah jadi asyik melihat tingkah polah mereka.
Ketiga pasang obyek itu kemudian bermain catur. Catur dengan metode permainan monopoli, yang memakai uang-uangan, aturan-aturanan, pembangunan-pembangunanan, pajak-pajakan, penjara-penjaranan, dsb. Asyik banget mereka dengan permainannya. Mereka mulai saling ngeles satu sama lain, saling sindir, saling buka aib dengan semangat kompetisi. Ada-ada saja ulah mereka. Kami sepertinya tersihir oleh tingkah polah lucu mereka, sehingga lupa akan tugas yang diberikan Mr.Dosen kepada kami.
Tibalah waktu Mr.Dosen datang lagi ke kelas, ternyata jatah jam untuk menggambar yang diberikan kepada kami telah habis. Ia memerintahkan untuk mengumpulkan hasil karya kami, apapun yang telah dihasilkan. Kami pun kembali kebingungan, karena tak ada satu pun dari kami yang sudah menggambar sesuai dengan perintah tugas yang diberikan Mr.Dosen.
Ngapain kalian bingung, kumpulkan saja kertas kalian, masukkan sekalian di dalam kotak itu katanya. Nanti tolong bawakan sekalian kotak itu ke ruangan saya.
Sesudah mengatakan itu, Mr.Dosen membalikkan badan dan keluar kelas dengan cepat. Sekali lagi kami pun saling berpandangan???, untuk beberapa saat tak ada yang keluar dari mulut kami selain bau mulut, barisan gigi dan deru nafas.
Salah satu kawanku berkata lantang: Bagaimana kawan, masukkan kertas gak???
tak ada jawaban, tak ada sesuatu kecuali suara itu. Hahahahahahaha……
GAMBAR BENTUK
Tiko, Juni 2009
Kali ini Mr.Dosenku membawakan obyek yang tak biasa. Ketika membuka kelas dengan gayanya yang cengengesan menampilkan sebuah kontradiksi dengan karakter wajahnya yang mempunyai raut muka serius yang akhirnya selalu membuat kami kangen dan memaafkan beliau. Ia masuk kedalam kelas dengan bersiul-siul kecil. Dikempitnya tiga pasang obyek yang bentuknya mirip sebuah boneka, Masing-masing obyek memiliki warna dasar yang berbeda. Kemudian dengan gerakan ekspresif, ia melemparkan tiga pasang obyek itu ke atas meja di depan kelas. Gedobraak….!!, kami kaget, kemudian sambil berpandang-pandangan satu sama laen, spontan bahu kami gerakkan ke atas dengan mengepyarkan jemari dan telapak tangan ke atas seperti ketika dalam posisi berdoa, alis kamipun bergerak-gerak naik turun sebagai bahasa tubuh kami, yang menandakan ketidak tahuan atas maksud dan tinggkah polah Mr.Dosen. bola mata kami saling lirik, melemparkan pertanyaan-pertanyaan diantara kami.
Mr.Dosen keluar lagi, sepertinya mengambil sesuatu yang masih ketinggalan. Benar sekali, tak lama kemudian ia kembali dengan membawa sebuah kotak besar, semacam pustek berwarna hijau. Ia taruh diatas meja di depan kelas, kemudian memasukkan ketiga pasang obyek itu kedalam kotak. Ia memutar kotak itu, yang ternyata disalah satu sisinya berbahan seperti kaca yang tembus pandang. Mr.Dosen menyuruh kami mengamati dengan teliti, menemukan keunikan, karakteristik dan keindahan dari ketiga obyek itu, kemudian memerintahkan kami untuk mengekspresiakan apa yang kami lihat tadi keatas selembar kertas yang ada materai dan stempel bergambar burung diatasnya yang sudah diberikannya diawal tadi. Setelah memberikan tugas kepada kami, ia pun pergi lagi entah kemana.
Pelajaran gambar bentuk yang aneh pikirku…
Kami pun mulai mengamati secara detail kedalam kotak itu, kepada ketiga pasang obyek tersebut. Istilah kerennya berkonsentrasi dan fokus. Lho, lho-lho..!, kami semua kaget, ternyata ketiga pasang obyek itu bukan sembarang obyek!. Pernah nonton film CR7 nya Steven Chow, boneka dari luar angkasa yang hidup dan berinteraksi itu?, ternyata ketiga pasang obyek itu memiliki karakter yang hampir mirip, karena bisa diajak berinteraksi dan bisa berinteraksi dengan sesamanya. Mula-mula mereka bernyanyi bersama. Kemudian berdeklamasi dan membaca puisi. Dilanjutkan berdansa dan saling bertukar pasangan. Sungguh lucu dan benar-benar lucu, kami malah jadi asyik melihat tingkah polah mereka.
Ketiga pasang obyek itu kemudian bermain catur. Catur dengan metode permainan monopoli, yang memakai uang-uangan, aturan-aturanan, pembangunan-pembangunanan, pajak-pajakan, penjara-penjaranan, dsb. Asyik banget mereka dengan permainannya. Mereka mulai saling ngeles satu sama lain, saling sindir, saling buka aib dengan semangat kompetisi. Ada-ada saja ulah mereka. Kami sepertinya tersihir oleh tingkah polah lucu mereka, sehingga lupa akan tugas yang diberikan Mr.Dosen kepada kami.
Tibalah waktu Mr.Dosen datang lagi ke kelas, ternyata jatah jam untuk menggambar yang diberikan kepada kami telah habis. Ia memerintahkan untuk mengumpulkan hasil karya kami, apapun yang telah dihasilkan. Kami pun kembali kebingungan, karena tak ada satu pun dari kami yang sudah menggambar sesuai dengan perintah tugas yang diberikan Mr.Dosen.
Ngapain kalian bingung, kumpulkan saja kertas kalian, masukkan sekalian di dalam kotak itu katanya. Nanti tolong bawakan sekalian kotak itu ke ruangan saya.
Sesudah mengatakan itu, Mr.Dosen membalikkan badan dan keluar kelas dengan cepat. Sekali lagi kami pun saling berpandangan???, untuk beberapa saat tak ada yang keluar dari mulut kami selain bau mulut, barisan gigi dan deru nafas.
Salah satu kawanku berkata lantang: Bagaimana kawan, masukkan kertas gak???
tak ada jawaban, tak ada sesuatu kecuali suara itu. Hahahahahahaha……
Diarsipkan di bawah: Kolam Seni
Tiko, mei 2009
Malam kala itu meriah sekali, Jhoni begitu gembira dan merasa sukses besar dalam menggelar pameran seni rupa bersama kelompok Bhatara-nya. Sejak jam 6 ia sudah standby untuk menyambut para tamu undangan dan yang tak diundang. Tamu-tamu mulai berdatangan, ia salami satu persatu dengan ucapan terimakasih atas kedatangan mereka. Sebagai balasan adalah ucapan selamat dari para tamu atas usahanya menyelenggarakan pameran tersebut. Memang sebagai satu kelompok, ia tidak sendirian dalam pamerannya itu ada 4 temannya yang lain, tetapi sebagai penggagas kelompok dan sekaligus ketuanya, terlihat sangat jelas naluri penonjolan diri atas teman-teman lainnya. Dengan baju safari celana jeans dan sepatu vantofel ia berjalan tegap dan penuh percaya diri, rambut cepak yang disisir rapi terlihat jelas ia tidak melupakan memakai minyak rambut. Tak lupa senyumannya itu yang begitu menggugah selera unuk beramah-tamah dengan siapa saja yang ditemuinya malam itu.
Langit terlihat cerah, bintang-bintang bertaburan. Udara terasa segar sekali, berita tentang sebuah kota yang rawan polusi udara dari knalpot gugur malam itu. Tidak mengherankan jika sebuah ruang pamer di ujung utara kota begitu ramai, karena pembukaan pameran seni rupa Bhatara adalah sebuah agenda penting bagi siapa saja yang mengaku penikmat, pemerhati, maupun para sporter kesenian di Yogyakarta. Mengapa begitu penting??, Jhoni memang termasuk seniman berkelas dengan karya yang berbobot. Apalagi dengan 4 temannya yang lain, Jh0han, Jefri, Juwita dan Jojon yang telah malang melintang dan ber jam terbang tinggi dalam even pameran skala lokal, nasional maupun internasional. Pendek kata mereka adalah para seniman top markotob dengan karya yang selalu ditunggu ummat kesenian di ibu kota Yogyakarta. Dalam pameran kelompok kali ini memang disiapkan dengan serius oleh pengelola galeri, karenanya 3 orang curator disiapkan sekaligus untuk menunjukkan prestise maupun bobot tema dan isu yang diangkat para seniman, Jhoni memang ketua, tetapi pemilik gallery itulah yang memegang kartu,
Seperti biasa, hari pembukaan pameran adalah sesuatu yang spesial seperti juga malam pertama, ada macam-macam alasan untuk berjumpa dengan malam pertama ini, ada yang karena penasaran, ada yang karena ramainya, ada yang karena reuninya, ada yang karena catalog gratisnya, ada yang karena suguhan hiburannya, ada yang karena makanan dan snack nya, dll. Malam itu aku berangkat karena undangan dari Juwita lewat sms yang dikirim malam sebelumnya. Juwita yang cantik jelita dengan lesung pipit di pipi kanannya. Sesampainya di sana tamu-tamu sudah memenuhi kursi undangan bahkan tak sedikit pula yang terpaksa berdiri, sedangkan aku harus berada di pinggir jalan raya, karena memang kondisinya tidak memunginkan untuk bisa masuk bahkan di halaman galerinya. Tak lama berselang aku berdiri Mas Bumi lewat dan kebetulan karena dia juga berangkat sendiri, kami kemudian ngobrol sambil merokok 234 sembari menungu pintu dibuka. Pembukaan itu memang special, karena bertepatan dengan ulang tahun galeri yang ke 6, oleh karena itu hiburan organ tunggal dari Sapto SE, Sarjana Electone dengan 5 biduannya mampu menjadi magnet tersendiri, karena kekocakan dan kemahirannya dalam memainkan organ, ditambah lagi sepasang pelawak kondang Jola&Joli dari imogiri yang ada-ada saja caranya untuk membuat seluruh hadirin tertawa terpingkal-pingkal.
Pembukaan pintu tak kunjung dimulai, sepertinya banyak juga yang merasakan sesuatu yang sama dengan aku. Curator masih saja berbaik hati merendahkan diri untuk meninggikan kualitas karya dan pameran tersebut, sedangkan seperti yang sudah kita ketahui sendiri, hampir semua yang hadir disana adalah orang yang bergelut, bersetubuh siang malam dengan karya seni. Para hadirinpun dengan besar hati dan sabar mendengarkan untaian hikmah kesenian dari beliau. Sungguh suatu gambaran peristiwa besar, kebesaran jiwa untuk saling menjaga, melindungi, dan menghargai yang menunjukkan sekali lagi jogja adalah kawah candradimuka bagi siapa saja yang ingin menjadi gatutkaca. Tidak di kampus-kampus keseniannya, di galeri-galeri, sanggar, kelompok, komunitas, jalanan, dinding-dinding , lorong, kampung dan sebagainya tetapi dengan cukup diam dan mengalir mengikuti arus saja.
Akhirnya pembukaan pintu pertama oleh seseorang yang sangat dihormati disana tiba juga. Ada dua titik yang dituju oleh hadirin, pintu ruang pameran dan samping gallery tempat dimana suguhan pembukaan berada. Bagi seniman debutan yang biasanya melewati masa menjadi snaker, malam itu adalah malam yang membahagiakan, karena suguhannya beragam, ada soto, pecel, dan snack yang beraneka warna ditambah jenis pilihan minuman dari panas sampai dingin, air putih sampai alcohol. Akupun menuju kepintu utama gallery, bukan karena sudah rindu melihat karya yang berkualitas, bukan pula karena telah pensiun menjadi snacker, tetapi kebetulan aku mengambil posisi berdiri lebih dekat dengan pintu gallery dari pada meja makanan.
Setelah masuk dan melihat beberapa karya aku melihat Juwita dan langsung saja kujabat tangannya sambil mengucapkan selamat berpameran. Wajahnya terlihat begitu berbinar-binar dengan baju warna birunya yang disorot sinar lampu yang benderang di ruang gallery, menjadikannya terlihat begitu anggun sekali malam itu. Ia pun mengucapkan terimakasih atas kedatanganku. Di depan karyanya ia mengajakku berfoto, kamipun memasang gaya untuk 2 kali jepretan, maklumlah, kami dulu pernah deket tetapi tak pernah jadian, karena memang saat itu ia sedang berpacaran dengan cowok lain yang berprofesi sebagai fotografer, dan kabarnya mereka telah putus sekarang. Alhamdulillah. Setelah itu tak kulupakan untuk memuji penampilannya yang sempurna malam itu, sebagai kredit point untuk sms atau telepon untuk malam-malam berikutnya.
Akupun kembali berjalan melewati karya satu-persatu, dengan sekali jalan dan sesekali berdiri agak lama untuk menikmati dan menemukan keunikan karya yang kupikir menarik. Hal yang sama dilakukan oleh hampir semua pengunjung disana. Satu putaran sudah cukup memenuhi kepala, apa itu, aku juga gak tahu. Dari luar suara kendang dan biduan beradu merdu, membuat langkahku tertuju kesitu, dan sedikit menikmati suguhan jasmani, pecel mediun dan minuman hangat. Lumayan sebagai pengganjal perut yang sedari tadi ingin diisi.
Di jogja, setiap ada acara pembukaan memang meriah dan penuh sesak penonton, bahkan ada salah satu gallery di sana yang sampai menerapkan sistem kloter, bagi penonton yang datang untuk dapat masuk ruang pamer dalam sebuah even seremonial opening. Begitulah semangat yang terlihat jelas dalam berapresiasi dari masyarakat khususnya sahabat-sahabat yang beremblem atau berkartu anggota komunitas seni sendiri. Entah mereka yang berada diluar lingkarannya. Tiba-tiba aku berdiri disitu dan tersadar semua rambutku telah memutih, kiri kananku mereka yang duduk disana, yang di samping situ, yang berjalan mondar mandir, yang sedang makan, yang memegang segelas teh, yang sedang menuang kopi, yang bergerombol dan tertawa terbahak-bahak, semua yang kukenal dan yang baru ketemui beberapa menit yang lalu, sahabat-sahabatku ada yang terliahat semakin kurus, ada yang semakin pendek dan gemuk, tetapi tulang pipi dan keriput wajah mereka, uban mereka,…. , dengan spontan kedua telapak tanganku mendarat dimuka, kurasakan kulit ini teras lembek dan keriput persis seperti lainnya. Aku tertegun diam dan sunyi, sekejap terasa angin lembut lewati sukma. Dan kedua telapak tanganku terasa basah penuh dengan air mata.
Tepukan dipundak menyadarkan lamunanku, “oh juwita..,” diapun terlihat sudah tua, tetapi kecantikannya tak memudar, bahkan semakin bersinar.
“Ayo mas, sudah malam, kita pulang saja, kasihan anak-anak”
Tangannya merengkuh lenganku dengan manja, sambil meririk mataku memerhatikan sekejap sambil berujar,
“Kenapa matanya merah?” Kupandangi dengan dalam bola matanya, sambil kemudian menggeleng-geleng pelan sembari tersenyum kecil.
Kamipun berjalan keluar, dan tentu saja bergandengan tangan. Sambil melangkah ketengok sekali lagi kebelakang. Di atas panggung yang tak begitu tinggi, tiga biduan masih bergoyang.
Dalam hatiku bertanya: aneh, kok mereka masih tetep muda?.
Diarsipkan di bawah: Kolam Seni
Hallo seni rupa
Apa kabarmu di sana
Ngambek yah
Kok diem terus sich
Mbok ya bohong
Aku pingin kau gombalin lagi
Hallo seni rupa
Cakrammu luar biasa
Emang beli dimana
Bagi untukku juga
Hallo seni rupa
Rupa-rupanya
Wajahmu memerah juga
Krasa apa pura-pura
Hallo seni rupa
Aku menantimu
dimana-mana
tiko, maret 2009
Diarsipkan di bawah: Kolam Seni
Bolehlah kau terangkan ini itu
Kau tunjukkan langkah efektif
Analisa masalah, kemungkinan solusi
Hingga trik-tip menghadapinya
Oke, aku sediakan kuping untuk mulutmu
Ku gelar jiwa samudra untuk badai cita-citamu
Dan sekotak penghapus serta tipex
Jikalau kau salah menuliskan untukku
Lho, apa-apa an ini kok jadi lesu!?
Jadi apa yag harus kutulis hari ini?
Akibat suplemen kadaluarsa?
Atau maaf, …putus asa?
Bualan teori kadang perlu
Tamparan pun perlu
Tapi yang belum terlihat dipagi ini
Terbitnya matahari dari jiwamu
Tiko, April 2009
Diarsipkan di bawah: Kolam Seni
Pacarnya Rupa,
sudahkah engkau berkarya?
Nyatanya sepi-sepi saja, emang berapa mata yang mau melihatmu?
Jangan-jangan kamu palsu, hingga orang tak mau melihatmu. Atau jangan-jangan kamu begitu asli, sementara mereka yang diluar sana super palsu dan maaf,mungkin matane mereka cuma mampu memandang yang palsu? Yang terjadi kan kau menggelarnya disana, Kau estetikmu Hingga ketika mereka menangkap ujaranmu, Menikmati serasa memilikimu dan sesuatu itu. Bahkan jikalau mata terpejam dan waktu berlalu, Engkau mampu berada dalam kegelapannya Dengan terangnya keelokannmu Syukur engkau mampu menemaninya Dalam setiap gerak lakunya Rupa, ijinkan aku disini Merindumu. Tiko, 2 April 2009
Diarsipkan di bawah: Kolam Seni
Pancaroba telah tiba, dari musim panas menuju musim hujan
Udara, angin, panas, hujan berganti tak beraturan
Serangga-serangga mulai berterbangan, tandai wabah penyakit yang hendak menyerang
Kanvasku malam itu kedinginan,
Batuk-batuk dan meriang
Ia bersandar lemas di sudut ruangan
……….
Semalam ia tidak bisa tidur
Gelisah dan terlihat pucat
Memikirkan teman-temannya,
yang kabarnya telah tersesat dan salah jalan
rintihannya kala itu membuatku pusing, …
aku gak tahan mendengarnya
lalu aku mendatanginya
Kamu itu gak usah mikir macem-macem kataku.
Mereka disana senang dan gembira,
bahkan bangga dengan keberadaannya,
toh kamu juga lihat sendiri,
make-up berwarna cerah ceria selalu di wajahnya.
Sudahlah kamu jangan mikir macem-macem,
toh kamu juga lagi sakit.
Apalagi ??
Kamu juga mikirin teman-temanmu yang juga lagi opname?
Si Kolase, Si Abstrak, Si Dekoratif, Si Naif
dan siapa lagi itu nama-nama temanmu itu.
santai sajalah,
Tuan-tuannya sudah mulai tahu kok,
Itu semua bukan tujuan
Melainkan make-up nya, riasan wajahnya,
ekspresi mukanya
Untuk pentas pertunjukan yang lebih luas,
lebih jauh dan hiburan kemanusiaan
human values.
Oalah,…
Aku tahu koq sebenarnya keluhanmu
Kamu gerah to? Masuk angin to?
Yaudah
Sini tak kerokin lagi
Tak bikin merah
Maafin aku yah
Seminggu yang lalu aku khilaf
Aku jual diri
Tiko, 18 maret 2009
Diarsipkan di bawah: Kolam Seni
Joko, seorang pelukis yang sama sekali gak top ikut merasakan imbas boom seni lukis sewon. Kawan-kawan seangkatannya sudah banyak yang “melejit”, termasuk juga pada harga karya mereka. Mobil bukan lagi barang mewah, bayar kontrakan tidak lagi jadi masalah, kalau perlu bayarnya dua tahun di pakainya setahun, bahkan kalau pemilik kontrakan minta utangan untuk alasan ini-itu, langsung mereka kabulkan tanpa menaruh rasa curiga. Itulah bukti rasa dermawan yang dimiliki teman-temannya. Pelukis tadi oleh kawan-kawannya diprasangkai baik, di tuduh turut mencicipi “kue manis” tersebut, sepertinya gak adil juga kalau sebenarnya seperti biasanya hari-harinya di jalani dengan puasa. Dalam lamunan kegelisahannya ia mencoba mencermati “kesalahan strategi” dalam memenejemeni karyanya selama ini. Ia menaruh curiga dalam hal pemberian nominal harga lukisannya, karena dalam pengalamannya ia memberikan harga yang murah untuk karyanya, bahkan ia sesekali menurunkan harga itu, tetapi masih juga gak ada yang melirik. Padahal seperti yang ia lihat sendiri “semakin tinggi harga karya semakin gagah karya itu di pandangan mata mereka”, dengan kata lain kegagahan karya terletak pada harganya, akhirnya ia pun berspekulasi menaikkan harga karyanya 3 sampai 4 kali lipat dari harga sebelumnya. Akhirnya betapa mengejutkan, tanpa disangka-sangka para kolektor, kolekdol, curator, kritikus, di negeri itu riuh rendah mengerubungi dan menjilati karya yang aneh tersebut.
Tiko, mei 2008
Diarsipkan di bawah: Kolam Seni
Ada sebuah gallery di sebuah kota, yang di pintu gerbangnya di jaga oleh seekor ular raksasa. Mulutnya selalu menganga, tubuhnya yang besar dan panjang melingkari bangunan itu. Suara desisnya membuat sekujur tubuh merinding, aura keseraman memancar jelas. Bulu kuduk siapa saja pastilah dibuatnya berdiri dan bagi yang penakut pasti dibuatnya terkencing-kencing, apalagi yang belum pernah merambah hutan dan tak pernah mempelajari jenis-jenis ular. Taring tajam di pangkal mulut yang menganga terlihat selalu menetes bisa berwarna hitam pekat. Ia memakan apa saja yang mendekat. Sapi, kerbau, anjing, bahkan manusia-pun disikatnya.
Suatu hari ada anak kecil yang nekat. Entahlah, mungkin ia keturunan pendekar dari padepokan mana, telah menguasai ilmu apa, dan mengantongi jimat apa sehingga ia gembelengan berjalan mendekat. Niatku ingin kuperingatkan untuk tak mendekat tetapi terlambat, anak kecil itu sudah persis berada tepat di depan ular besar tersebut. Dengan jantung berdebar dan menahan nafas was-was aku memperhatikan sambil jongkok dari kejauhan, sambil sesekali berdoa penuh kecemasan berharap anak itu selamat.
Semoga ular itu sudah kenyang-
Semoga ular itu sudah kenyang-
Semoga ia malu untuk makan anak-anak…
….
Tetapi dengan cepat aku dibuat terkejut, sungguh benar-benar terkejut melihat kejadian, sebuah pemandangan di depan mata kepalaku sendiri. Ajaib- ajaib gumanku.. sambil berdecak kagum, ck,ck,ck… Kulihat anak itu bercakap sambil mengelus kepala si ular, mata yang segede piring, yang biasanya berwarna merah menyala, kali ini tak memancarkan keseraman, bahkan terlihat merem melek keenakan dan sesekali terpejam lama. Kemudian kulihat anak kecil itu menjilati mukanya, taringnya, badannya yang terlihat licin tanpa rasa takut sedikitpun. Melihat itu semua, aku menjadi semakin bingung dibuatnya. Ajaib-ajaib….. pikirku.
Tiko, feb, 2009
Pintu studioku kututup rapat, kuas-kuas kubiarkan berserakan. Sisa cat acrilik dan lukisan yang belum selesai dan tak juga kunjung selesai kutinggalkan sementara. Setelah kemarin aku mengunjungi keluarga di Jepara, kali ini keluarga di Cilacap mengharapkan kedatangan kami.
Di Yogyakarta tercinta kuselesaikan pekerjaan rumah yang belum selesai, lalu rombongan kecil kami, mas Bambang, mas Erie, Didik dan aku berangkat kecilacap. Kerumah saudara kami Teguh Eka Prasetya alias Tekap (he.he.he…) dan Agung Widyo (ho.ho.ho.ho…).
….
Dia sungguh berani, si ular kecil, ular dengan batikan di kulitnya, dengan dominasi warna hitam, menyusup ke studioku yang kemarin kututup rapat. Memang ada dua pintu disana, yang masing-masing memang memungkinkan ular kecil dapat masuk menyusup lewat bawah pintu yang tak begitu rapat dengan lantai.
Bisa atau racun dalam dirinya mungkin tak seberapa, tetapi untuk membuatmu pingsan aku kira itu memungkinkan jika yang takut cukup dengan visual, wadagnya, tubuh ular itu akan membuatmu menjerit-jerit karena bentuk dan warnanya geli menjijikkan.
Dia mungkin ingin menjadi salah satu modelku, dengan menggelitikku untuk mencari dan menghubungkan dengan konsep karya-karyaku belakangan ini yaitu seputar hewan dan makanan. Kemarin aku baru kedatangan kodok, coro, bunglon, bebek, cicak, nyamuk dsb. Yang awalnya sih datang untuk mengapresiasi karyaku, tetapi akhirnya sudah dan telah kubariskan rapi dalam kesatuan komposisi kavasku.
ada; Bebek Jagoan dan Penggembala Tengik 2008, Martabat Bunglon 2008, Kostum Kebesaran dan Pilihan Medan Renang 2008, Join 2008, Kalah Cepat 2008, Berebut Sampah 2008, Sarapan Pagi 2008, Makan Malam Terakhir 2008, Makan Besar 2009, dslb.
Tapi mengapa si ular hitam bisa tergencet kanvasku sampai mati dibawahnya, siapa yang menggencetnya, kapan ia tergencet, ah pertanyaan itu akan sulit terjawab. Dan aku tak mau sulit-sulit mencari jawabannya.
Ular-ular berbisa, ular di dalam diri manusia yang memakan manusia,
Kekuatan sihir, mulutmu yang berbisa dan berbusa,
Semburkan racunmu, racun retorikamu, racun analisamu,
Semburkan dengan kuat, aku sudah menantinya,
Ha.ha.ha.. asal engkau tahu,
Air liurku dari tadi sudah menetes
Menginginkannya.
Tiko, feb, 2009
Pernah aku ikut-ikutan bersedih dan murung, atas kesempatan mencium dinding-dinding disana. Kadang juga terpancing amarah, padahal kakekat memancing adalah kesabaran berusaha dan menunggu.
Memang aku anak nakal.
Kutendangi kepalanya, tapi yakinlah, tetap kuarahkan ke dalam gawang supaya terjadi goal.
Kuincar jidatnya, kubidik dengan senapan angin biar rasa sakit itu cepat menghilang
Untunglah, memang tak sepantasnya dinding itu menggantikan hajar aswad, dan alangkah sayang jika energimu habis cuma untuk bermain-main amarah.
Akhirnya, lubang-lubang cacing bermunculan di depanku, lobangnya besar sekali. Seluruh perut bumi adalah jalur-jalur rahasianya, di bawah tanah yang terang benderang, ada udara segar dan sinar mentari yang menghangatkan.
Lewat lubang itu engkau bisa menyusup kesetiap rumah diatas sana, bukan cuma seminggu atau sebulan, melainkan setiap saat. Naiklah kesana memasuki setiap ruang hatinya dengan berbekal hatimu, dengan cinta.
Di kolam galleri,
Beristirahatlah sejenak, mungkin engkau berkenan sesekali bersamaku mempercantiknya dengan menanam bunga-bunga, menabur benih ikan, atau mengurasnya jika air disana telah keruh. Semoga saja sumber mata air itu selalu mengalir jernih walaupun musim kemarau tiba.
Tiko, feb, 2009