Diarsipkan di bawah: Kolam Susu
Rasa memiliki ini yang membuatku selalu terperangkap dalam cengeng,
Terharu biru oleh polah perasaan dan persangkaan,
Maafkan klo aku balik kanan dan menjauh darimu,
Kukira kau yang kutunggu,….
………………. Ternyata kau palsu.
Tiko,09.09

Diarsipkan di bawah: Kolam Susu
Ada yang sengaja diam agar didekati,
dan ada yang tak mau didekati karenanya diam.
Ada yang malu-malu karena ia ingin tahu,
Ada yang gak tahu karenanya jadi malu.
Maka tunjukkan kekeliruanku
Untuk membantu lebih sayang padamu.
Tiko, april 2009
Diarsipkan di bawah: Kolam Susu
Terlalu banyak kami berdusta
Terlalu sering kami berpaling
Kamipun berpura menyamar
Dalam kebodohan, melata seperti binatang
Mata kami lirikkan kanan-kiri
Kelangit maupun bumi
Oh betapa bodohnya kami…
Kami malu, malu dan malu
Bagaimana mungkin kami bersembunyi
Bagaimana mungkin kami menyamar,
Kami sadar tak bisa lagi sembunyi
Tak mungkin lagi menyamar
Yang pasti kami sangat malu
Menatap diri sendiri
Mungkinkah kami mampu
Menatap wajahmu
Ampuni kami…
Tiko, 2008
Diarsipkan di bawah: Kolam Susu
Suatu sore tamparan datang di muka kami.
Kau dedikasikan karyamu untuk siapa?
Apa yang kau lukis?
Masyarakat bawah?
“Siapa tahu dengan lukisanku ini kolektor-kolektor bisa tergerak untuk lebih merasakan himpitan hidup orang-orang kecil”
“Ah, kau terlalu pandai untuk memutar balikkan kata, jika engkau memang berempati pada mereka, mampu merasakan yang mereka alami, turunlah dan carilah solusi bagi persoalan mereka, jangan kau eksploitir dengan bentuk yang lain, jangan Cuma memandang mereka sebagai objek artistic karyamu”
“Memang begitulah tugas seniman, urusan moral sudah ada bagiannya sendiri. Disana ada banyak ahli agama, ahli sosial dan ahli-ahli lainnya yang lebih tepat”
“Pakai jubah kesenianmu,… aku muak dengan ide-ide besarmu, aku muak dengan ocehan kosongmu.
Kecanggihan berpikirmu seperti tai”
Tiko, pertengahan tahun 2008
Diarsipkan di bawah: Kolam Susu
tiko, Nov.08
“Tuliskan yang indah-indah, yang nyaman saat di baca, yang menyenangkan hati kami. Kamu baru belajar nulis saja sudah marah-marah terus. Sebanarnya apa yang kamu mau?”
“Emangnya aku harus menulis sesuatu yang bagaimana lagi, sementara di kiri kananku, dari hari-kehari kulihat dan kutemui hanya hal-hal yang membuat marah, keputusasaan dimana-mana pemandangan ketidak adilan, dengki-dendam, bau busuk dan udara pengap bikin ku muak. Sementara yang disini cuma tahu berpesta pora, cuek dan tak peduli. Coba katakana kepadaku apa yang harus kuucapkan.”
“Cobalah fokus satu persatu atas masalah dan keluhan yang mampir ke pinggir kolammu. Perhatikan dengan teliti, bedakan yang masalah dan bukan masalah, yang keluhan atau kecengengan, yang harus sekarang atau untuk besok, yang harus dituntun digendong, atau dibuang di tempat sampah, atau yang cukup di elus dan dikasih senyuman. Tapi jika harus ditertawakan, tertawalah yang keras. Aku inging mendengar suara kodok tertawa.”
“Kau pikir aku sehebat itu? Aku ini kodok!. Jangan sangka aku pemerintah, aku bukan dukun, bukan juga seniman, bukan cendekiawan., atau apalah itu. Kau terlalu banyak omong, terlalu menuntut. Kamu manusia ya?. Dengarkan saja jika kamu suka, dimusim hujan ini, ngorek adalah siklus alamiah bagi kodok. Sudah, aku mau berenang dulu.terimakasih nasehatnya!.”
Sambil berenang ke tengah danau, kodok berkata dalam hati. Apakah yang barusan ngomong padaku tadi Nabi Sulaiman yah, kok tahu bahasa kodok. Atau manusia dijaman ini sudah pandai dan mengerti bahasa kodok. Ah tak peduli aku dengan itu semua. Sekarang adalah saatnya bagi kodok cari makan.
Diarsipkan di bawah: Kolam Susu
Tiko, Nov.08
Hai diriku yang bernama kesedihan.
sudah bertahun-tahun kita akrabi jalan
panjang hari-hari yang dingin dan beku.
yang getir dan tak terelakkan sakitnya.
Hari ini kukembalikan jubah keputus-asaan pinjamanmu.
Hai kesedihan, kau sering mengatakan bahwa kita
tak diberi rizki yang layak oleh Tuhan.
Kau mengajakku menangis di tengah gelap.
Entah mengapa dalam dendam ketidak tahuan malam,
Tiba-tiba bahagia sudah berada disampingku.
Dan benar-benar sudah lama disampingku.
Sejak aku belum bisa menangis cengeng
Seperti ini.
Bahagia mengusap lembut rambutku.
Dan berbisik halus di telinga.
Yang suaranya langsung terdengar
sampai kepusat jantungku.
kenapa kau bersedih cuma karena pemahamanmu yang dangkal
mengenai rizki. dengarkan baik-baik.
Jangan kau ingkari rizki Tuhan yang telah diberikan kepadamu.
Tidak ingatkah engkau kepada kawan-kawan yang menemanimu,
Yang telah berhujan dan berpanasan untukmu,
Menampung curahan kesedihanmu kedalam tempayan perak mereka.
Mencoba memecahkan persoalanmu dengan mencarikan solusi.
Mendukung keputusanmu sepenuhnya dan selalu menemanimu
tanpa berniat sedikitpun meninggalkanmu.
Walaupun kadang kau bersikap tak mau mengerti akan dia.
Jangan kau anggap rizki dari Tuhan itu cuma berwujud
materi kebendaan, kekayaan dan uang.
Nama besar, ketenaran dan apapun yang kau pahami itu.
Hingga bagi engkau yang belum merasa menggapainya,
mati-matian mengejarnya.
Membutakan segala apa yang Tuhan telah anugrahkan kepadamu.
seperti: sahabat, keluarga, guru, kesehatan, lingkungan,
air, udara dan apa saja yang begitu dekat denganmu
seakan tak bisa terlihat sebagai bentuk anugrah
yang harus kau syukuri, sebagai salah satu bentuk pengabdianmu.
mu.
jangan sia-siakan itu semua, lalu temukan tulus dan syukur
dalan setiap jengkal langkahmu.
setelah mengucapkan dengan lembut ditelingaku,
dengan tiba-tiba bahagia tadi menghilang.
Dua butir katanya tentang tulus dan syukur memintaku
untuk selalu memaknai dan menggalinya.
Dalam keadaan kosong kucoba menggenggam erat bayangannya.
dalam seribu tanya.
Setelah jubah keputusasaan kukembalikan kepada kesedihan,
Jubah harapan kukenakan.
Kesedihan-kebahagiaan lenyap dalam waktu yang singkat.
Akupun kembali berjalan.
Baru beberapa langkah,
Kesedihan sudah duduk di depan situ, Berdiam membelakangiku.
Entah siapa yang ditunggunya.
Entah apa yang dilakukannya.
Diarsipkan di bawah: Kolam Susu
Tiko, Nov.08
…
Mereka beralasan dengan meminjam nama tuhan. Seolah menganggap hanya mereka yang disayang dan diberkati. Sedangkan yang lain, yang tak senasip, yang miskin, yang tersisihkan adalah bagian dari golongan yang terlaknat, dimurkai tuhan.
Engkau dengan khusuk bersyukur dalam sujudmu. Namun di hatimu mengatakan jujur, mengatakan mereka sainganmu.
Apakah engkau menyadari bahwa tindakanmu yang seperti itu sama saja menyetujui anggapan bahwa: Tuhan telah berlaku tidak adil, tuhan tidak peduli dengan orang-orang lemah, orang tertindas, orang tersisih, orang yang tak mempunyai kesempatan. Membiarkan mereka semakin melarat dan sekarat.
Engkau banggakan kariermu, hasil usahamu, kau kenakan jas sutera, kau kopyahi mahkota permata, kau gelar permadani Persia, kembali kau sujud lama sekali.
Kau gesekkan keningmu hingga menghitam. Kau tersenyum, senyum dalam sujud. Sambil terus menghitung keuntunganmu, labamu. Kau pikir dengan mengingat itu semua menambah jaminan yang lebih besar dari tuhan. Langsung di dunia ini maupun di akhirat kelak. Sementara kau tahu betul temanmu, kawanmu diluar sejak siang menahan lapar sambil mencoba keberuntungan mencari kerak makanan. Bahkan kau saksikan gangguan dari orang-orang yang kau kenal.
Kembali kau berguman lirih dalam sujudmu, tuhan menyengsarakan mereka dikarenakan mereka tidak beriman. Dan karena mereka bodoh.
Hingga suatu hari engkau mendapat kabar tentang terbebasnya temanmu dari himpitan kehidupan dunia ini dengan datangnya telegram duka. Engkaupun kembali bersujud lama, bersyukur karena dengan begitu temanmu telah berakhir kesulitan hidupnya di dunia ini. Dan hilanglah satu saingan.
Engkau bersujud. Lamaaaa sekali.
Diarsipkan di bawah: Kolam Susu
Kodok ijo mengajakmu jalan-jalan ke sungai
Menuju Mata Air
Silahkan mandi disana
Atau jika kamu merindu nada merdu
Datangi Mocopatan Syafaat
Disaat Padhang mBulan
Ada acara Kenduri Cinta
Komunitas belajar sedang dibangun disana