Diarsipkan di bawah: Kolam Visual

colase, acrylic, canvas
apakah kelahiran-kelahiran itu masih engkau rindui,atau malah sebaliknya,
engkau menerapkan fir’aunisme bergaya modern dengan berdasarkan keinginan pribadimu?
dan bagi engkau yang menunggu kelahiran,yang telah lahir dan yang masih merangkak,
waspadai, tangan kekuasaan itu masih saja tak menginginkanmu…,
pendapatku: hanya tangis dan kelemahanmu yang membuat langit kembali mengasihimu.
Diarsipkan di bawah: Kolam Visual

150 x 150 cm
acrilik on canvas
Diarsipkan di bawah: Kolam Visual

Akrilik diatas kanvas
70 X 150 cm
2007
Kelahiran kedua penulis artikan sebagai kesadaran akan kebutuhan
untuk bersama-sama untuk saling belajar, mengenal, menghargai,
mewujudkan kesejahteraan, rasa aman, kasih sayang,
dan segala kebaikan yang mampu dirumuskan oleh pemikiran manusia.
Dalam lukisan kali ini penulis menggambarkan dua basic figur anak,
yang di deformasi sedemikian rupa, terlihat saling bercengkrama
menikmati dialektika kelahiran ke-dua mereka.
Diarsipkan di bawah: Kolam Visual

Akrilik diatas kanvas
150 X 70 cm
2007
Terkadang kurang teliti, kurang waspada,
kurang rangkap ilmu yang dipakai dalam melihat suatu hal atau fenomena
membuat membuat manusia cepat puas atau kebalikannya mudah menyerah.
Perihal tersebut akan mudah dimanfaatkan bagi orang-orang pandai
dan memiliki ilmu yang lebih.
Dalam lukisan kali ini keinginan seseorang yang begtu kuat
akan hujan sebagai metafora pelepas dahaga atau penyejuk rohani,
membuat manusia semakin sulit membedakan antara air kencing dengan air hujan.
Diarsipkan di bawah: Kolam Visual
90 X 90cm
acrylic on canvas
2007
Perasaan takut bisa muncul dimana saja dan kapan saja,
dan terkadang tidak jelas permasalahan yang melatar belakangi
munculnya rasa takut itu muncul.
sebagai contoh adalah berfikir terlalu jauh mengenai apa yang belum terjadi
dan berfikir negatif.
hal tersebut memicu timbulnya rasa takut,
sehingga mungkin terjadi hilangnya pertimbangan-pertimbangan yang rasional.
Manusia akan terjerumus dalam lobang buatannya sendiri melalui rasa takutnya.
Dalam lukisan ini saya lukiskan figur-figur yang kehilangan kepala aslinya
melainkan menggunakan kepala yang tidak sesungguhnya
sebagai kritik atas hilangnya kesadaran berfikir.
Diarsipkan di bawah: Kolam Visual
Keadaan yang penuh dengan kepalsuan menyelimuti
hampir semua ruang luar-dalam manusia.
Hati nurani yang kali ini disimbolkan sebagai anak kecil
seolah dinina-bobokan oleh hal-hal yang sudah dianggap wajar.
Terkadang kesadaran memakai hati kecil sebagai rujukan pertimbangan terakhir
tak berfungsi dengan semestinya, dikarenakan telah pulas tertidur.
Tetapi anehnya seolah hatinya hati kecil selalu berdoa untuk selalu tersadar.


