Diarsipkan di bawah: Kolam Seni
Pacarnya Rupa,
sudahkah engkau berkarya?
Nyatanya sepi-sepi saja, emang berapa mata yang mau melihatmu?
Jangan-jangan kamu palsu, hingga orang tak mau melihatmu. Atau jangan-jangan kamu begitu asli, sementara mereka yang diluar sana super palsu dan maaf,mungkin matane mereka cuma mampu memandang yang palsu? Yang terjadi kan kau menggelarnya disana, Kau estetikmu Hingga ketika mereka menangkap ujaranmu, Menikmati serasa memilikimu dan sesuatu itu. Bahkan jikalau mata terpejam dan waktu berlalu, Engkau mampu berada dalam kegelapannya Dengan terangnya keelokannmu Syukur engkau mampu menemaninya Dalam setiap gerak lakunya Rupa, ijinkan aku disini Merindumu. Tiko, 2 April 2009
Diarsipkan di bawah: Kolam Humor
Tiga orang anak sedang menikmati rasa lapar. Mereka mencoba mencari tahu apa yang tersembunyi dari rasa lapar mereka. Menurut kakek mereka, suara yang terdengar dari dalam adalah suara kejujuran. Akhirnya merekapun kompak diam membisu, menunggu suara kejujuran yang akan keluar dari dalam.
Tak lama kemudian dari perut anak yang pertama tiba-tiba mengeluarkan bunyi “kukkuruyuuuk…kuruyuuuk…”
dengan kecut anak itupun tersenyum bangga. Sambil bercerita bohong, bahwa ia kemarin habis maka dua potong paha ayam besar.
“ha.ha.ha.ha…” suara tawa dari mereka meledak memulai sore yang indah.
Beberapa detik menunggu,
Menyusul kemudian dari dalam perut anak yang kedua terdengar suara aneh, “krrk..krrk..k..kurruyuuuk… breeek..greeg” gelak tawapun mengiringi suara aneh tersebut. Anak yang kedua ini pun tersenyum dan penuh percaya diri bercerita
“tiga hari yang lalu, aku makan satu blek kerupuk dan dua kepala ayam dan tiga tusuk sate brutu, ha.ha.ha…”
tawa dari anak kedua ini pun disambung dua kawan lainnya. Sore itu semakin ceria dibuatnya.
Lalu mereka bertiga kembali membisu sambil menanti apa yang akan diungkapkan dari dalam perut mereka. Lama ditunggu tak juga terdengar suara. Anak yang pertama dan kedua mulai gelisah. Mereka mencemaskas temannya yang ketiga. Mereka pun bertanya dalam hati, jangan-jangan temannya yang ketiga sudah lama tidak makan. Muncul rasa iba di hati mereka, namun merekapun tetap diam membisu.
Tiba-tiba, suara yang sejak tadi dinanti-nantikan merekapun mulai terdengar, tapi sangat pelan…
“krrk..kr…rr…tekkekkk….tokkeeek….keeek….keek…”
anak yang ketigapun tersenyum lebar sambil berdiri gagah, bercerita dengan suara keras penuh bangga:
“kemarin aku habis makan tokek bakar tiga ekor!!”
Ha.ha.ha.ha…. Ha.ha.ha.ha….
Ha.ha.ha.ha…. Ha.ha.ha.ha….
Ledak tawapun lepas dari mulut lapar mereka.
Tiko, maret, 2009
Diarsipkan di bawah: Kolam Seni
Pancaroba telah tiba, dari musim panas menuju musim hujan
Udara, angin, panas, hujan berganti tak beraturan
Serangga-serangga mulai berterbangan, tandai wabah penyakit yang hendak menyerang
Kanvasku malam itu kedinginan,
Batuk-batuk dan meriang
Ia bersandar lemas di sudut ruangan
……….
Semalam ia tidak bisa tidur
Gelisah dan terlihat pucat
Memikirkan teman-temannya,
yang kabarnya telah tersesat dan salah jalan
rintihannya kala itu membuatku pusing, …
aku gak tahan mendengarnya
lalu aku mendatanginya
Kamu itu gak usah mikir macem-macem kataku.
Mereka disana senang dan gembira,
bahkan bangga dengan keberadaannya,
toh kamu juga lihat sendiri,
make-up berwarna cerah ceria selalu di wajahnya.
Sudahlah kamu jangan mikir macem-macem,
toh kamu juga lagi sakit.
Apalagi ??
Kamu juga mikirin teman-temanmu yang juga lagi opname?
Si Kolase, Si Abstrak, Si Dekoratif, Si Naif
dan siapa lagi itu nama-nama temanmu itu.
santai sajalah,
Tuan-tuannya sudah mulai tahu kok,
Itu semua bukan tujuan
Melainkan make-up nya, riasan wajahnya,
ekspresi mukanya
Untuk pentas pertunjukan yang lebih luas,
lebih jauh dan hiburan kemanusiaan
human values.
Oalah,…
Aku tahu koq sebenarnya keluhanmu
Kamu gerah to? Masuk angin to?
Yaudah
Sini tak kerokin lagi
Tak bikin merah
Maafin aku yah
Seminggu yang lalu aku khilaf
Aku jual diri
Tiko, 18 maret 2009
Diarsipkan di bawah: Kolam Susu
Terlalu banyak kami berdusta
Terlalu sering kami berpaling
Kamipun berpura menyamar
Dalam kebodohan, melata seperti binatang
Mata kami lirikkan kanan-kiri
Kelangit maupun bumi
Oh betapa bodohnya kami…
Kami malu, malu dan malu
Bagaimana mungkin kami bersembunyi
Bagaimana mungkin kami menyamar,
Kami sadar tak bisa lagi sembunyi
Tak mungkin lagi menyamar
Yang pasti kami sangat malu
Menatap diri sendiri
Mungkinkah kami mampu
Menatap wajahmu
Ampuni kami…
Tiko, 2008
Diarsipkan di bawah: Kolam Seni
Joko, seorang pelukis yang sama sekali gak top ikut merasakan imbas boom seni lukis sewon. Kawan-kawan seangkatannya sudah banyak yang “melejit”, termasuk juga pada harga karya mereka. Mobil bukan lagi barang mewah, bayar kontrakan tidak lagi jadi masalah, kalau perlu bayarnya dua tahun di pakainya setahun, bahkan kalau pemilik kontrakan minta utangan untuk alasan ini-itu, langsung mereka kabulkan tanpa menaruh rasa curiga. Itulah bukti rasa dermawan yang dimiliki teman-temannya. Pelukis tadi oleh kawan-kawannya diprasangkai baik, di tuduh turut mencicipi “kue manis” tersebut, sepertinya gak adil juga kalau sebenarnya seperti biasanya hari-harinya di jalani dengan puasa. Dalam lamunan kegelisahannya ia mencoba mencermati “kesalahan strategi” dalam memenejemeni karyanya selama ini. Ia menaruh curiga dalam hal pemberian nominal harga lukisannya, karena dalam pengalamannya ia memberikan harga yang murah untuk karyanya, bahkan ia sesekali menurunkan harga itu, tetapi masih juga gak ada yang melirik. Padahal seperti yang ia lihat sendiri “semakin tinggi harga karya semakin gagah karya itu di pandangan mata mereka”, dengan kata lain kegagahan karya terletak pada harganya, akhirnya ia pun berspekulasi menaikkan harga karyanya 3 sampai 4 kali lipat dari harga sebelumnya. Akhirnya betapa mengejutkan, tanpa disangka-sangka para kolektor, kolekdol, curator, kritikus, di negeri itu riuh rendah mengerubungi dan menjilati karya yang aneh tersebut.
Tiko, mei 2008
Diarsipkan di bawah: Kolam Susu
Suatu sore tamparan datang di muka kami.
Kau dedikasikan karyamu untuk siapa?
Apa yang kau lukis?
Masyarakat bawah?
“Siapa tahu dengan lukisanku ini kolektor-kolektor bisa tergerak untuk lebih merasakan himpitan hidup orang-orang kecil”
“Ah, kau terlalu pandai untuk memutar balikkan kata, jika engkau memang berempati pada mereka, mampu merasakan yang mereka alami, turunlah dan carilah solusi bagi persoalan mereka, jangan kau eksploitir dengan bentuk yang lain, jangan Cuma memandang mereka sebagai objek artistic karyamu”
“Memang begitulah tugas seniman, urusan moral sudah ada bagiannya sendiri. Disana ada banyak ahli agama, ahli sosial dan ahli-ahli lainnya yang lebih tepat”
“Pakai jubah kesenianmu,… aku muak dengan ide-ide besarmu, aku muak dengan ocehan kosongmu.
Kecanggihan berpikirmu seperti tai”
Tiko, pertengahan tahun 2008
Diarsipkan di bawah: Kolam Visual

150 x 150 cm
acrilik on canvas
Diarsipkan di bawah: Kolam Seni
Ada sebuah gallery di sebuah kota, yang di pintu gerbangnya di jaga oleh seekor ular raksasa. Mulutnya selalu menganga, tubuhnya yang besar dan panjang melingkari bangunan itu. Suara desisnya membuat sekujur tubuh merinding, aura keseraman memancar jelas. Bulu kuduk siapa saja pastilah dibuatnya berdiri dan bagi yang penakut pasti dibuatnya terkencing-kencing, apalagi yang belum pernah merambah hutan dan tak pernah mempelajari jenis-jenis ular. Taring tajam di pangkal mulut yang menganga terlihat selalu menetes bisa berwarna hitam pekat. Ia memakan apa saja yang mendekat. Sapi, kerbau, anjing, bahkan manusia-pun disikatnya.
Suatu hari ada anak kecil yang nekat. Entahlah, mungkin ia keturunan pendekar dari padepokan mana, telah menguasai ilmu apa, dan mengantongi jimat apa sehingga ia gembelengan berjalan mendekat. Niatku ingin kuperingatkan untuk tak mendekat tetapi terlambat, anak kecil itu sudah persis berada tepat di depan ular besar tersebut. Dengan jantung berdebar dan menahan nafas was-was aku memperhatikan sambil jongkok dari kejauhan, sambil sesekali berdoa penuh kecemasan berharap anak itu selamat.
Semoga ular itu sudah kenyang-
Semoga ular itu sudah kenyang-
Semoga ia malu untuk makan anak-anak…
….
Tetapi dengan cepat aku dibuat terkejut, sungguh benar-benar terkejut melihat kejadian, sebuah pemandangan di depan mata kepalaku sendiri. Ajaib- ajaib gumanku.. sambil berdecak kagum, ck,ck,ck… Kulihat anak itu bercakap sambil mengelus kepala si ular, mata yang segede piring, yang biasanya berwarna merah menyala, kali ini tak memancarkan keseraman, bahkan terlihat merem melek keenakan dan sesekali terpejam lama. Kemudian kulihat anak kecil itu menjilati mukanya, taringnya, badannya yang terlihat licin tanpa rasa takut sedikitpun. Melihat itu semua, aku menjadi semakin bingung dibuatnya. Ajaib-ajaib….. pikirku.
Tiko, feb, 2009
+ di buka yak, mumpung hujan dan dingin. Dah masuk blm? Gmn rasanya.. Ksh teriakannya dong.. He.he96.. jg ngerez.. mksudnya masuk di blogku. 12 feb.2009
20 :59:40
- MODEMKU LG DIPJM ADEKU, HIK HIK HIK ADEM2 NTN TV WAE.. HEHE BSK YA 21 :01:27
+ Padahal enakan skrg, malem2 sepi, berdua mandi di kolam2ny kodok ijo, maenin kodok, dan kodok2an ha.ha69.. (jgn crta2 tmn lho) 21: 07:58
- YAAA, DA TERLANJUR SMSNYA DI BACA MA TMEN2… SORY… HAHA 21 :11:50
+ yaudah, ajak aja skalian bidadari2 lain tuk cuci kaki & mandi brg.. Tapi crita yg khusus tuk km gak jadi, takut nnti pd cemburu. Ha.ha96… 21 :21:24
- CRITA OPO? KO KTWANE 96x TRUS G NANGGUNG! 21 :21:24
+ Ntar, Sabar, Tnggu bentar, syaratny km masuukkk dulu.. Ok, crt ini dah lm, tapi msh rahasia, malu aq, Wha.kak.kak 2.696x… 21 :37:44
- apasih ceritanya tiko? Kok ketawanya terus2an
+ sebetulnya gak lucu sih, justru karena itu aku ingin ketawa terus2an..
Masalah gak lucu ini, karena sangat lokal, sangat personal, Bukan Humor Berkelas yang bisa dinikmati oleh banyak orang.
- jadi itu bukan sesuatu yang berbobot, yang mencerdaskan yah?
+ ya.. bahkan cenderung menyesatkan ha..ha..69x
Kira2 3-4 tahun yang lalu aku pernah dan telah bermimpi, dalam mimpi itu aku berada di sebuah kamar, di sana ada kamu juga.
Aku duduk di lantai dengan bersandar pada dinding yang di sebelah atasnya ada sebuah jendela yang terbuka keluar. Saat itu matahari cerah, menjelang sore, dengan udara segar yang keluar masuk lewati jendela dengan leluasa. Kamu ingin tahu, kamu berada dimana?
Ya, kamu berada dalam pangkuanku, punggungmu membelakangiku, sambil asyik membaca buku harianku, lembar demi lembar cerita demi cerita.
Kamu dalam pelukanku…
He.he.he.96x
Oleh karena itulah aku “sedikit memaksa” kamu untuk baca sebagian buku harianku dalam blog kodok—ijo ini karena terinspirasi dari mimpi tersebut.
Sekarang mengenai membacanya sudah menjadi kenyataan, berarti yang belum apanya….?
Hahahaa…
- DASAR !!!!
Tiko, feb.2009
Sedikit catatan untuk mengingat
Ketemu monyet
Kau menemuiku, kau jabat tanganku
Kita ngobrol rame-rame
Aku curi-curi pandang
Kau pun tak berubah, berlagak malu
Seperti yang ku kenal, kau percikkan benih-benih harapan,
Peta petunjuk jalan, bahkan janji kencan yang terawang
Ya aku pernah suka kamu
Sahabatku pernah suka kamu
Entahlah dulu pengorbanan untuk sahabat
Atau sahabat yang mengorbananku
Serpertinya…, saat ini terserah kamu dan aku
Tiko, 2006
