Kodokiju’s Weblog


DI JAGAN
Februari 21, 2009, 7:55 pm
Diarsipkan di bawah: Kolam Seni | Tag:

Pintu studioku kututup rapat, kuas-kuas kubiarkan berserakan. Sisa cat acrilik dan lukisan yang belum selesai dan tak juga kunjung selesai kutinggalkan sementara. Setelah kemarin aku mengunjungi keluarga di Jepara, kali ini keluarga di Cilacap mengharapkan kedatangan kami.
Di Yogyakarta tercinta kuselesaikan pekerjaan rumah yang belum selesai, lalu rombongan kecil kami, mas Bambang, mas Erie, Didik dan aku berangkat kecilacap. Kerumah saudara kami Teguh Eka Prasetya alias Tekap (he.he.he…) dan Agung Widyo (ho.ho.ho.ho…).
….

Dia sungguh berani, si ular kecil, ular dengan batikan di kulitnya, dengan dominasi warna hitam, menyusup ke studioku yang kemarin kututup rapat. Memang ada dua pintu disana, yang masing-masing memang memungkinkan ular kecil dapat masuk menyusup lewat bawah pintu yang tak begitu rapat dengan lantai.
Bisa atau racun dalam dirinya mungkin tak seberapa, tetapi untuk membuatmu pingsan aku kira itu memungkinkan jika yang takut cukup dengan visual, wadagnya, tubuh ular itu akan membuatmu menjerit-jerit karena bentuk dan warnanya geli menjijikkan.

Dia mungkin ingin menjadi salah satu modelku, dengan menggelitikku untuk mencari dan menghubungkan dengan konsep karya-karyaku belakangan ini yaitu seputar hewan dan makanan. Kemarin aku baru kedatangan kodok, coro, bunglon, bebek, cicak, nyamuk dsb. Yang awalnya sih datang untuk mengapresiasi karyaku, tetapi akhirnya sudah dan telah kubariskan rapi dalam kesatuan komposisi kavasku.

ada; Bebek Jagoan dan Penggembala Tengik 2008, Martabat Bunglon 2008, Kostum Kebesaran dan Pilihan Medan Renang 2008, Join 2008, Kalah Cepat 2008, Berebut Sampah 2008, Sarapan Pagi 2008, Makan Malam Terakhir 2008, Makan Besar 2009, dslb.
Tapi mengapa si ular hitam bisa tergencet kanvasku sampai mati dibawahnya, siapa yang menggencetnya, kapan ia tergencet, ah pertanyaan itu akan sulit terjawab. Dan aku tak mau sulit-sulit mencari jawabannya.
Ular-ular berbisa, ular di dalam diri manusia yang memakan manusia,
Kekuatan sihir, mulutmu yang berbisa dan berbusa,
Semburkan racunmu, racun retorikamu, racun analisamu,
Semburkan dengan kuat, aku sudah menantinya,
Ha.ha.ha.. asal engkau tahu,
Air liurku dari tadi sudah menetes
Menginginkannya.

Tiko, feb, 2009



ANAK NAKAL
Februari 21, 2009, 7:54 pm
Diarsipkan di bawah: Kolam Seni | Tag:

Pernah aku ikut-ikutan bersedih dan murung, atas kesempatan mencium dinding-dinding disana. Kadang juga terpancing amarah, padahal kakekat memancing adalah kesabaran berusaha dan menunggu.
Memang aku anak nakal.
Kutendangi kepalanya, tapi yakinlah, tetap kuarahkan ke dalam gawang supaya terjadi goal.
Kuincar jidatnya, kubidik dengan senapan angin biar rasa sakit itu cepat menghilang
Untunglah, memang tak sepantasnya dinding itu menggantikan hajar aswad, dan alangkah sayang jika energimu habis cuma untuk bermain-main amarah.
Akhirnya, lubang-lubang cacing bermunculan di depanku, lobangnya besar sekali. Seluruh perut bumi adalah jalur-jalur rahasianya, di bawah tanah yang terang benderang, ada udara segar dan sinar mentari yang menghangatkan.
Lewat lubang itu engkau bisa menyusup kesetiap rumah diatas sana, bukan cuma seminggu atau sebulan, melainkan setiap saat. Naiklah kesana memasuki setiap ruang hatinya dengan berbekal hatimu, dengan cinta.
Di kolam galleri,
Beristirahatlah sejenak, mungkin engkau berkenan sesekali bersamaku mempercantiknya dengan menanam bunga-bunga, menabur benih ikan, atau mengurasnya jika air disana telah keruh. Semoga saja sumber mata air itu selalu mengalir jernih walaupun musim kemarau tiba.

Tiko, feb, 2009



KOPI PAHIT
Januari 29, 2009, 5:07 pm
Diarsipkan di bawah: Kolam Humor

Dia adalah seorang seniman yang biasa kerja malam, hidup dan menghidupi malam, sedangkan sebagian banyak waktu siangnya adalah untuk tidur dan main-main. Pada tahapan kehidupan berkeluarga, terjadilah sebuah dilema. Istri yang dicintainya belum mampu menerimanya apa adanya, sementara kariernya tak semulus angan dan harapannya apalagi ditambah tekanan dari keluarga si wanita. Kebutuhan hidup yang semakin mengganas dan mencekik memberikan tekanan berat bagi keluarga baru itu.
Disaat kondisi kritis dan terjepit itulah ia putuskan untuk banting stir dan terpaksa mengubah pola hidup menjadi bagai manusia umumnya. Ia bekerja di bengkel sepeda motor jika disana memerlukannya, ia sebagai kuli panggul di pasar jika dagangan es cendolnya tak kunjung laku. Ia pun membantu sebagai tenaga ajar di sebuah SD swasta walaupun cuma sekali dalam satu minggu. Ia melakukan apa saja dan dengan siapa saja selama itu halal demi mempertahankan keutuhan rumah tangganya. Disamping itu semua tentu saja meluangkan walau sedikit waktu untuk berkarya, yang katanya sih tuntutan dari lubuk hatinya.
Hal yang demikian tentu bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilakukan, karena waktu siang tersita untuk bekerja dan malamnya pun seperti biasanya diluangkan untuk berkarya. Namun apalah dikata, tenaga manusia ada batasannya. Kopi yang biasanya manjur sebagai penangkal kantuknya, sudah tak terasa efeknya di badan dan mata.
Akhirnya ia pun berkonsultasi dengan seorang dokter.
“Dokter, saya mempunyai masalah dengan rasa kantuk yang berlebihan, saya tidak bisa mengontrol keinginan tidur walaupun hari masih sore. Sedangkan saya masih pingin bekerja di malam hari. Saya sudah menyiasatinya dengan meminum kopi pahit di campur sedikit garam, tapi semua sia-sia, malahan tidur terasa nikmat sekali setelah saya minum kopi. Bagaimana saya bisa tahan untuk terjaga dok?”.
“Oh, kalau itu sebetulnya masalah sepele. Bukan soal kopi yang yak berkhasiat menahan kantuk, tetapi lebih pada cara anda menikmati kopi itu.”
“Maksud dokter?”
“Maksud saya; ketika anda merasakan kantuk bikinlah kopi kental yang panas, terus jangan langsung diminum kopinya, tapi gunakan untuk mencuci muka anda dulu, baru diminum. Pasti dijamin anda tidak ngantuk lagi.”
“Yaiya lah dok, gak ngantuk tapi mlocoti. Dasar dokter sialan.”

Tiko, jan.09



Hitam Putih Untuk Penggembala Tengik
Januari 29, 2009, 5:06 pm
Diarsipkan di bawah: Kolam Humor

Oleh : Tiko

Didik Wibowo marah-marah besar. Kopinya yang masih separoh di join ama cicak. Rencananya nglembur sanpai pagi terganggu oleh nekatnya sahabat kita yang satu itu. Untuk mengurangi emosinya ia pun terpaksa, maaf, mantek aji sebentar untuk berkomunikasi dengan cicak tersebut. Karena ia mengetahui marah tanpa mengerti sebabnya marah adalah kebodohan dan menyakiti sesama mahluk termasuk dosa walaupun itu adalah seekor cicak. Maka terjadilah komunikasi.

“ Hai, Cicak-cicak di dinding, engkau sungguh mulia.
Setiap hari engkau membantu menjagaku dengan melahapi nyamuk-nyamuk yang sering menggigit dan mengganggu di malam lemburku dan saat bobok ku.
Kiranya ada apa gerangan kali ini engkau yang merusuhi diriku dengan meminum kopiku dari gelas yang satu. Maka karena kebodohanku yang tak mampu menerima kejadian ini, berikanlah alasan yang memuaskan untuk meradakan rasa kesalku ini, kenapa engkau nekad mencicipi kopiku? ”

“ Ha.ha.ha.ha… cicak tertawa terbahak, kamu jangan cepat emosi, jangan cepat marah, ntar jadi cepat tua baru tau rasa. Lengkungkan dulu bibirmu dan berikan tatapan mata persahabatan padaku!.”

“ Iya, iya.. Didik terus mendesak, tapi mengapa engkau meminum kopiku. Kalau kamu haus bukankah banyak air disana, di bak kamar mandi atau dimana saja. Bukankah kamu bebas dari bermacam penyakit perut. Silahkan minum apa saja, tapi jangan kopiku!.”

“ Kamu jangan sok tahu sahut cicak. Bukankah kamu sadar aku selalu temani malam mu? Membantu mengurangi nyamuk dirumahmu karena mereka adalah makananku. Dan apakah aku selalu meminum kopimu? Apakah kau pernah menawari aku? Kau pikir aku mencuri kopimu? Sebenarnya dari tadi aku sudah meminta baik-baik kepadamu, Cuma engkau yang terlalu serius di hadapan karya senimu itu yang mengurangi kepekaan pendengaranmu. Sebenarnya begini, malam ini aku ngantuk berat. Badanku terasa capek.
Aku takut jika berjalan di dinding dan eternit nanti terpeleset dan jatuh, kan bisa jadi berabe. Aku ingat kemarin engkau berbicara dengan temanmu soal khasiat kopi, yang salah satunya adalah mencegah kantuk. Oleh karena itu aku ingin membuktikan sendiri kebenarannya.”

“ Ya udah jika benar itu alasanmu, aku menerimanya.
Padahal tahu gak, dari dulu nenek moyangmu juga memakai alasan yang sama untuk membenarkan perbuatannya.”

“ Maksudmu?” Tanya si cicak.

“ Apa kamu tidak pernah mencari tahu kenapa tahimu berwarna hitam dan putih. Hitamnya banyak dan putihnya setitik.” Cicak semakin tak ngerti.
“ Gini ceritanya; cicak nenek moyangmu dulu adalah sahabat nenek moyangku. Karena cicak binatang yang baik, ia mendapatkan anugrah untuk bisa melawan gravitasi. Ia bisa merayap di dinding dan eternit seperti kemampuan yang kamu miliki sekarang. Sampai-sampai tahinya pun berwarna putih. Sampai suatu hari moyangku membuat kopi nikmat di sebuah malam. Cicak moyangmu tergoda untuk mencicipinya karena mencium aroma wangi kopi tersebut. Iapun mengendap merayap dan meminum hampir separoh kopinya.”

“ Wuih.., yang bener ” sahut cicak.

“ Kemudian kakek moyangku mengintrogasinya, dan ternyata cicak tak mengakui perbuatannya. Padahal moyangku dengan mata kepala melihat kalau si cicak yang meminum kopinya. Karena itu ia pun mengucapkan semacam doa; jika cicak bohong maka tunjukkanlah semacam pertanda yang jelas kepadaku. Maka tak lama kemudian perut cicak terasa sakit dan tak tahan untuk berak. Alangkah mengejutkan bagi cicak, ternyata tahinya berubah warnanya menjadi hitam dengan sedikit putih. Ia pun dengan segera menyadari kekhilafannya. Syahdan hingga sampai saat ini keturunan cicak mewarisi warna hitam putih di tahinya dan keinginan mencicipi kopi milik manusia. ”

Cicak tadi pun tersenyum-senyum …
“ Maaf dech – maaf dech,” sambil nyelonong pergi merayap ke dinding kamar dan berhenti diatas sebuah lukisan.

“ Kamu ingin tahu pendapatku tentang lukisanmu” tanpa menunggu jawaban
“ Ini pendapatku ” sambil mleding berak menetes menjatuhi tepat di atas hidung figur manusia dalam lukisan “Bebek jagoan dan Penggembala tengik” miliknya.

Didik dan cicak tertawa terbahak-bahak bersama.

Tiko, jan. 2009



JATUH CINTA
Januari 29, 2009, 4:58 pm
Diarsipkan di bawah: Kolam Seni

Pada suatu hari aku cuma ingin jalan-jalan ke gallery, bukan satu atau sesuatu gallery melainkan kusatroni semuanya, tetapi dengan cara diam-diam. Mulutku kututup erat dengan kedua tanganku yang kurasakan semakin hari semakin lebar. Kulangkahkan kaki dengan mantap dari kosku yang semakin sesak dan pengap, entah karena apa.
Pada hari itu mataku kubiarkan jelalatan. Kulirik kiri, kulirik kanan, kutatap atas, kuintip bawah, hik.hik.hik… siapa tahu ketemu yang sedang aku cari.
Jangan pikir aku sedang cari ide hebat,
Jangan sangka aku lagi cari wacana bermutu tinggi,
Jangan curigai aku hendak “nyunggi” atau memuntahi karya seseorang,
Jangan kira aku mau memetakan sesuatu atau merancang sesuatu. Sudah beberapa lama tanganku telah kulatih untuk menunggu hari itu. Latihannya sih sepele; telapak tangan, disitulah fokusnya. Punggung dan muka dari talapak tangan. Aku cuma membolak-balik telapak tangan keatas lalu kebawah, keatas lagi kemudian kebawah lagi. Seperti itu berulang-ulang. Demi untuk menutupi suara kentut yang keluar dari mulutku yang semakin hari semakin tak terkendali. Tuut, thuuut, breet, thiiit dan sejuta nada-nada aneh sejenisnya.

Yang kucari di hari itu adalah yang ingin kulihat, bukan karya yang mengepalkan tangan dan berteriak-teriak, bukan yang sok filosofis, keminter, bukan karya yang merajuk, perayu ataupun penggoda, bukan karya yang penuh simpanan teka-teki masa lalu atau masa depan. Bukan karya yang cuek bebek dan tak peduli, bukan yang sok pahlawan atau pendamai, atau karya pewarta zaman kini, pengkhotbah, pendidik, atau apapun suara yang keluar dari mereka.

Dihadapan mereka aku meloncat-loncat, sesekali memutarinya dengan satu kaki. Kadang kupegangi tangannya dan berputar bareng. Sesekali juga aku iseng mencoleknya, bahkan kalau gregetan kucubit dia, padahal jelas-jelas ditulis besar di situ Don’t touch, mohon jangan menyentuh karya… ah bolehlah untukku dan untuknya, dia selalu menegurku masak aku tak menyapanya.
Dalam rapatnya kedua telapak tanganku mulutku tersenyum lebar. Jangan bilang siapa-siapa, matanya berbinar kepadaku, akupun membalasnya walaupun tanpa kata-kata.

tiko, jan. 2009



Kelahiran yang ke dua
Januari 3, 2009, 4:05 pm
Diarsipkan di bawah: Kolam Visual

kelahiran-yang-ke-dua-90x120-cm-akrilic-on-canvas-20072

Akrilik diatas kanvas
70 X 150 cm
2007

Kelahiran kedua penulis artikan sebagai kesadaran akan kebutuhan
untuk bersama-sama untuk saling belajar, mengenal, menghargai,
mewujudkan kesejahteraan, rasa aman, kasih sayang,
dan segala kebaikan yang mampu dirumuskan oleh pemikiran manusia.
Dalam lukisan kali ini penulis menggambarkan dua basic figur anak,
yang di deformasi sedemikian rupa, terlihat saling bercengkrama
menikmati dialektika kelahiran ke-dua mereka.



Tarian Hujan Dimusim Kemarau
Januari 3, 2009, 4:03 pm
Diarsipkan di bawah: Kolam Visual

tarian-hujan-dimusim-kemarau-acrilic-on-canvas-150x70-20072

Akrilik diatas kanvas
150 X 70 cm
2007

Terkadang kurang teliti, kurang waspada,
kurang rangkap ilmu yang dipakai dalam melihat suatu hal atau fenomena
membuat membuat manusia cepat puas atau kebalikannya mudah menyerah.
Perihal tersebut akan mudah dimanfaatkan bagi orang-orang pandai
dan memiliki ilmu yang lebih.
Dalam lukisan kali ini keinginan seseorang yang begtu kuat
akan hujan sebagai metafora pelepas dahaga atau penyejuk rohani,
membuat manusia semakin sulit membedakan antara air kencing dengan air hujan.



Rombongan
Januari 3, 2009, 2:34 pm
Diarsipkan di bawah: Kolam Seni

Di dalam pameran bersama itu, dia pameran sendiri.
Mereka berpameran sendiri-sendiri.
Walaupun ditulis dengan kata kebersamaan, berselimut kehangatan, ditali persaudaraan, mereka, karya mereka belum saling kenal.
Tak terdengar sapa pun mesra.

Yang satu bilang ini, yang situ bilang itu. Yang sono bicara sendiri,
saling omong. Cuma dengan diri sendiri, maupun dengan orang yang kira-kira mau mendengarkan. Padahal dari tadi belum ada orang yang benar-benar mendengarkan.

Riuhnya mirip pasar. Suara gemuruh orang-orang bila kau dengar dari kesunyian.
Orang yang butuh sayur mendatangi penjual sayur. Terjadi transaksi, lahir dan batin. Orang yang butuh pakaian mencari penjual pakaian. Terjadi transaksi, lahir dan batin.

Seminggu, sebulan kemudian pasar pindah datang segerombolan pedagang-pedagang baru. Dengan metode sama.
Yang bajunya telah usang, mencari baju baru. Sayur yang kemarin telah jadi kotoran. Lapar, cari makan lagi di pasar.

Suatu hari terjadi keguncangan.
Penjual semakin lapar.
Pembeli tak ada uang.
Mulailah kejahatan tumbuh menjalar lebat dalam pasar.
Nafas mereka mulai sesak.
Saling tuding, saling tuduh, saling marah.
Mereka tak tahu harus berbuat apalagi.
Tiba-tiba seorang gila lewat. Aku tak tahan sendiri, aku tak tahan sendiri, masih dengan suara jeleknya ia nerocos sambil berjalan.
Walaupun kita sering ngobrol, ngopi, makan, bahkan tidur bareng, mandi bareng, mancing bareng, olah raga, olah rasa, tapi kenapa rasanya aku masih sendiri.
Kamu pun sendiri.
Apa kamu mau ikuti jejak si gila ini. Tiap hari bicara sendiri.
Aku minta putus dari kamu.
Dan aku memutuskanmu,
Jika keinginanmu adalah jalan sendiri-sendiri.

Penghuni pasar saling berpandangan, merekapun saling berbisik; ah Cuma orang gila, merekapun kembali dalam percakapan yang sama.
Bantah membantah.

Tiko, Des. 2008



KUAS-KUAS DIBALIK KASUR
Desember 13, 2008, 5:45 pm
Diarsipkan di bawah: Kolam Humor

oleh tiko, des.2008

+ Kuas apa yang bikin sedih?
- Kuas murahan, kuas patah, kuas kotor!!!
+ Salah, salah, salah..!!
- Serus jawabnya apa?
+ Kuasih tak sampai, he.he3…

lagi yah,
+ Kuas apa yang item, panjang, keras, bulunya kriting, baunya khas, kalo digosok membesar?

(sambil diem, mikirin jawabannya)
- Wah jorok neh..
+ Apa jawabannya?
- Enggak ah, jorok seh..
+ Nyerah yah, jawabnya KUASsihan dech loe, jadi mikirin yang jorok.. ha.ha3..
- Assemik.. hik.hik3..

00 Ada lagi, kuas yang tak bisa dilawan
## Apaan tuh?
00 Kuasa ilahi.

## Kuas yang paling panjang?
00 Kuasa ramadhan.
## Kualat lho…
00 Ah cuma guyonan…, guyon…
dah mumet, masak gak boleh guyon.

~ Kuas apa yang bikin males nglukis?
! Kuas buatan cina!
~ Salah, sentimen lo!
! Kuasmaran lalu jalan-jalan terus!
~ Bukan itu
! Terus kuas apa?
~ Kuasur empuk

(!~) ..HA…HA…HA……



PICASO dan STIKER GENIT
Desember 13, 2008, 5:42 pm
Diarsipkan di bawah: Kolam Humor

Awalnya picaso melukis secara realislik souveniran, karena gak terlalu laku dan harganya murah banget, ia pun mencoba beralih pada usaha pembuatan keramik, karena picaso terkenal cukup kreatif dan suka hal yang sifatnya baru, ia pun menjadikan keramiknya sebagai media melukisnya. Idenya ini pertama kali cukup menarik dan ia mulai mendapatkan uang dari lukisan keramiknya. Eh baru beberapa minggu tetangga-tetangganya ikut-ikutan buat keramik yang dilukisi, jadi pasarannya seret lagi, terlalu banyak saingan.
Suatau hari istrinya yang bernama Fernande Oliver minta duit untuk belanja dan beli benges. Karena picaso memang lagi tak ada duit ia tak bisa memberikannya, si Oliver gak mau tau, ia marah-marah. Piring-piring di hambur-hamburkan, keramik dipecahin, Picasopun gak tahan dirumah, ia lalu ambil motor buntutnya, di stater dan langsung cancap gas, pergi kearah kota. Ditengah perjalannya ke kota ia disalip cowok ABG (Andalan Banyak Gadis) yang juga naik motor tua. Dan disaat motor cowok ABG itu tepat di depannya, Picaso, Sumpah enggak sengaja baca stiker di helm pengendara motor di depannya itu yang bertuliskan “PECAH NDASE, PECAH NDOKE n MATANE”. Ia merasa kena banget dengan tulisan itu, seolah itulah jiwanya. Iapun merenungkan, mengasosiasikan bayang-bayang pikirannya yang semrawut merumbai dan terbelah belah, keramik yang pecah dirumah, stiker yang genit, dan bermacam persoalan yang telah dialami dalam hidupnya selama ini. Dan akhirnya timbulah dorongan kuat dari dalam dirinya untuk membuat figur yang terpecah-pecah. Ia pun secara skali lagi gak-sengaja menemukan gaya yang para kritikus nantinya secara teoritis akademis silis pitis, memberikan sebutan gaya dan aliran kubisme untuk lukisan picaso.

Glosarium
Stiker Genit: adalah kependekan dari Stiker Gemblung nanging Nginspiratif
Tiko,des,2007